Tembang Pribumi
Musik adalah Ungkapan Perasaan Manusia, bukan Ukuran Status Sosial.
Minggu, Maret 09, 2008
Adegan Musik Indonesia 1970-2003
[
Ketika badai krisis moneter mendera negeri ini tanpa henti, musik (pop) Indonesia tidak pernah berhenti. Musik Indonesia tetap tegak berdiri. Di masa paceklik nan pelik ini, grup-grup tangguh seperti Slank, Dewa, Sheila On 7, Jamrud, dan Padi, malah menuai sukses. Mereka rata-rata berhasil menjual album masing-masing di atas jumlah satu juta keping.

Bahkan kalau dihitung pula dengan hasil kaset bajakan, album Dewa bisa mencapai tiga juta keping," ungkap Ahmad Dhani Manaf, leader Dewa. Lantas, apa yang membuat musik Indonesia sedemikian tangguh, padahal film Indonesia sudah cukup lama terjerembab sejak dasawarsa 1990-an?<>

"Musik ibarat orang merokok. Meski banyak imbauan bahwa rokok merusak kesehatan, toh orang tetap aja merokok. Musik pun sudah menjadi kebutuhan sehari-hari" ungkap Tantowi Yahya, presenter kondang yang juga bergelut di industri musik.

Hal senada juga diungkapkan pemusik Harry Sabar. "Selama manusia masih butuh hiburan, yang namanya musik tetap ada," katanya. Apalagi, membuat musik tidaklah sekompleks membuat film.

"Teknologi perfilman kita jelas tak mampu mengimbangi kemajuan Hollywood, misalnya. Perlu berpuluh-puluh tahun ke depan. Berbeda dengan musik, tren global yang berlaku di musik bisa kita serap untuk industri musik kita," papar Tantowi.

Dan musik pop Indonesia dari tahun 1960-an hingga sekarang, kata Tantowi, memang tak bisa lepas dari pengaruh musik pop mancanegara. "Lihat saja ketika The Shadows ngetop di Indonesia, muncul Zainal Combo Band. Atau ketika pamor The Beatles mencuat, lalu muncul Koes Bersaudara di sini," kata presenter kuis ini.

"Dulu pemusik kita sering bangga bila berhasil menjadi imitator artis atau band luar negeri. Ada yang bangga disebut Harry Belafonte Indonesia, ada Bee Gees Indonesia, ada Connie Francis Indonesia, dan lain-lain yang akhirnya justru menghambat kreativitas mereka sebagai pemusik," tutur Harry Sabar yang dikenal sebagai komposer.

Munculnya Koes Bersaudara dengan lagu-lagu karya cipta sendiri di tahun 1960-an melalui rekaman yang dibuat oleh perusahaan rekaman Irama milik almarhum Mas Yos, dianggap memicu iklim bermusik yang baik di negeri ini. Terlebih lagi ketika kelompok bersaudara ini lalu melebur dengan formasi Koes Plus di awal tahun 1970-an.

Industri musik pun kian bergairah. Satu per satu grup-grup baru bermunculan seperti Panbers, The Mercy’s, Favorite’s Group, atau D’lloyd. Grup-grup rock seperti The Rollies, AKA, God Bless, Freedom of Rhapsodia, Golden Wing, atau Rasela yang tadinya lebih banyak membawakan repertoar asing di pentas pertunjukan, mulai membawakan lagu sendiri di studio rekaman.

"Tetapi, peran cukong rekaman sangat dominan. Para pemusik tahun 1970-an sering didikte untuk membawakan lagu- lagu yang simpel agar laku di pasaran. Para pemusik pun biasanya tunduk dengan kemauan produser rekaman agar bisa masuk ke studio. Namun, yang bandel juga banyak," tukas Seno Hardjo, mantan wartawan musik yang kini menekuni industri rekaman.

Oleh sebab itu, di kala menjamurnya lagu-lagu kacangan di era 1970-an, di kala itu juga banyak album-album yang rada nyeleneh seperti yang dihasilkan Guruh Gipsy, Harry Roesli, Gombloh And Lemon Trees Anno ’69, Konser Rakyat Leo Kristi, Kelompok Kampungan, Remy Sylado Company, dan banyak lagi.

"Saat itu saya berusaha meyakinkan para cukong rekaman bahwa selain bisa membuat album yang laris bak pisang goreng, saya juga bisa menghasilkan album yang bergengsi. Dan untungnya mereka mengerti. Jadi idealisme kita tetap ada," kata Harry Sabar yang sering berkolaborasi dengan sejumlah pemusik seperti Keenan Nasution hingga Jockie Soerjoprajogo.

Revolusi musik?

Dari kurun waktu tahun 1970 hingga sekarang ini, telah terjadi revolusi musik-kah? "Revolusi Musik? Rasanya itu berlebihan dan tak pernah terjadi di negeri kita. Yang ada mungkin adalah perubahan saja, atau perubahan tren" ujar Harry Sabar.

Harry pun menyebut perubahan yang sempat dia catat adalah era penyanyi solo seperti Rachmat Kartolo berubah menjadi era grup band seperti Koes Plus. Lalu muncul era penyanyi melankolis dan digantikan dengan era musik ala Badai Pasti Berlalu. Lalu terjadi regenerasi yang memunculkan nama-nama baru seperti Slank, Gigi, Dewa, Padi, atau Sheila On 7.

"Masing-masing era tersebut sama bagusnya karena sesuai dengan tren yang tengah berlangsung. Jadi sangat tidak bijaksana jika saya menyebut era ini lebih bagus dari era sesudahnya," cetus Tantowi yang juga dikenal sebagai penyanyi country ini. Tantowi lalu menyebut bahwa pada era 1970-an, musik pop Indonesia sangat dipengaruhi tren musik yang berlangsung di Eropa.

"Saat itu hampir sebagian besar pemusik kita berkiblat pada pemusik Inggris maupun Belanda," tambahnya. Baru di pertengahan tahun 1980-an pengaruh musik pop Amerika Serikat seperti rap, R&B, dan metal, mulai menyelimuti industri musik Indonesia. "Mulai muncul rapper seperti Iwa K atau Andre Hehanussa yang memainkan musik R&B," jelas Tantowi.

Dalam catatan Seno, adegan musik Indonesia di pertengahan tahun 1980-an cukup menampilkan banyak ragam. Ada fusion dari grup-grup seperti Krakatau, Emerald, Karimata atau Bhaskara. Ada rock seperti Superkid, Giant Steps, El Pamas, atau Grass Rock.

Atau pemusik-pemusik balada yang sarat kritik sosial seperti Iwan Fals, Gombloh, Franky And Jane, dan Ully Sigar Rusady. "Jangan lupa, saat itu banyak lagu-lagu berkualitas yang muncul dari ajang lomba bikin lagu seperti Festival Lagu Pop Indonesia maupun Lomba Cipta Lagu Remaja," tutur Seno, yang kini banyak menghasilkan album-album katalog lama seperti karya Fariz RM, Dian Pramana Poetra maupun Utha Likumahuwa.

Era 1980-an yang penuh warna bak bianglala itu rasanya terulang kembali di awal abad ke-21 ini. Saat ini begitu banyak artis maupun band yang tampil dengan karakter musik yang kuat.

"Tanpa warna yang berbeda dan karakter yang kuat, mustahil para pemusik bisa membangun identitas dan eksistensinya. Apalagi, persaingan saat ini sangat ketat. Bagaimana bisa pemusik dikenali jika membonceng warna musik orang lain?" ungkap Riza Arshad, yang memimpin grup jazz Simak Dialog.

Pendapat senada juga dilontarkan Piyu, gitaris Padi. "Dulu, kami sering dituding mirip U2. Tetapi, untungnya kami menyadari bahwa kehadiran grup-grup besar itu pada Padi, hanya sebatas pengaruh belaka," kata dia.

Piyu pun mengakui bahwa dia banyak mendengarkan kelompok-kelompok old school seperti Led Zeppelin, Queen, atau The Beatles sebagai inspirasi untuk berkarya. "Saya juga banyak mendengarkan Badai Band dan Iwan Fals. Mereka adalah pemusik-pemusik yang saya kagumi," tukas Piyu di sela-sela tur konser di 45 kota di Indonesia.

Saat sekarang ini grup-grup musik papan atas Indonesia tercatat menghasilkan penjualan yang sangat fantastis. Misalnya Jamrud yang meraup penjualan mencapai dua juta keping untuk album Ningrat (2000), Dewa dengan penjualan dua juta keping lewat album Bintang Lima (2000), dan Sheila On 7 pada album kedua yang terjual 1,8 juta keping.

Pencapaian angka fantastis ini, selain memang didukung oleh kualitas musik yang memadai, juga didukung oleh strategi pemasaran yang jitu dari para major label seperti Sony Music Indonesia, Aquarius Musikindo atau Logiss. "Mereka berani mengeluarkan budget besar untuk promosi di televisi maupun media cetak. Hal semacam ini jarang terjadi di era 1970-an maupun 1980-an," kata Seno.

Baik Seno maupun Harry menyebut bahwa di era 1980-an, penjualan album kaset di atas 300.000 keping mulai tercapai termasuk di antaranya oleh Nicky Astria maupun God Bless. "Saat itu pencapaian sebesar 300.000 untuk musik rock merupakan hal yang sangat fantastis," kenang Donny Fattah, pemetik bas God Bless.

"Tetapi, rekor penjualan sekitar satu juta keping sebetulnya pernah terjadi di tahun 1976, yaitu untuk album anak-anak Adi Bing Slamet. Eddy Sud berperanan di balik rekor penjualan fantastis itu," ucap Harry yang kini lebih banyak menekuni pembuatan music score sinetron di layar kaca.

Memasuki era 1990-an, muncul gerakan baru dalam industri musik Indonesia yang independen. Gerakan ini muncul karena begitu banyaknya artis dan grup yang tak berhasil menembus perusahaan rekaman besar atau major label.

Gerakan independen ini muncul juga karena para pemusik tak rela kreativitasnya diutak-atik didikte perusahaan-perusahaan rekaman yang besar. "Saya sangat salut dengan gerakan independen ini karena mereka mulai memahami seluk-beluk industri musik yang selama ini terkesan tidak transparan, mulai dari hasil penjualan hingga distribusinya. Juga hal-hal lain yang melecehkan kreativitas pemusik," komentar Harry.

Di awal tahun 1990-an, gerakan independen ini digagas oleh kelompok rock asal Bandung, PAS Band, yang bergerilya memasarkan album mereka. Ternyata, usaha PAS Band berbuah sukses.

Pengusaha rekaman kelas kakap menjadi terperangah karena grup yang pernah mereka tolak mentah-mentah ternyata kini berhasil menuai sukses. "Uniknya, PAS Band lalu dikontrak oleh Aquarius Musikindo, salah satu perusahaan rekaman terbesar di negeri ini," kata Seno.

Gerakan independen ini pun tak hanya berhenti di situ, malah terus merambah ke mana-mana. Beberapa grup musik independen ini malah melakukan terobosan pasar secara internasional, seperti yang telah dilakukan oleh kelompok Tengkorak, Discus, dan Mocca. "Album Mocca kini malah di-display di toko-toko kaset besar berdampingan dengan album-album keluaran major label," tambah Seno.

Begitu riuh dan dinamis adegan musik Indonesia saat ini. Semakin yakinlah kita bahwa musik Indonesia masih tetap bernapas, masih tetap menggeliat walau didera pelbagai kendala. Hidup musik Indonesia!

Denny Sakrie Pengamat musik/ Kompas online
posted by Tembang Pribumi @ 7:49 AM  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
Tentang Saya

Nama: Tembang Pribumi
Kediaman: Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Informasi:
See my complete profile
Jurnal Sebelumnya
Simpan Data
Halo-halo

Musik adalah Cinta Pertama Ku.

Teman-teman
Didukung oleh

BLOGGER