Tembang Pribumi
Musik adalah Ungkapan Perasaan Manusia, bukan Ukuran Status Sosial.
Minggu, Maret 09, 2008
Lomba Cipta Lagu Remaja 1978



Lomba Cipta Lagu Remaja 1978
V/A DD Record 1978 Tidak ada Lomba Cipta Lagu yang hasilnya bergitu berpengaruh seperti LCLR 78. Ini adu ajang kreatif yang berhasil melahirkan pemahaman baru bahwa sebuah komposisi yang dimenangkan tak harus selalu berkutat dengan kaidah2 konvensional seperti selama ini menjadi acuan dean juri. Lagu-lagu yang lolos seleksi memperlihatkan progresi nada serta arransmen sangat komunikatif dan terbukti mampu bersaing di chart, sesuatu yang jarang dilakukan oleh produk sejenis Tiga diantaranya adalah " Kidung " ciptaan Christ Manusama, dibawakan oleh kelompok vocal Pahama ( Bram, Diana,& Christ ). kerangka lagunya sederhana sama sekali tidak mencerminkan jebolan sebuah festival, namun berhasil mencuri perhatian. Sedemian terkenalnya lagu ini, sampai-sampai Orkes Pancaran sinar petromaks memparodikannya dengan jenaka. Lalu ada " Khayal ' ( Cipt Christ & Tommy Ws ) yang dibawakan dengan rancak oleh Purnama Sultan. Secara imajinatif keduanya sama-sama bercerita tentang harapan. Lagu pemenang lainnya yang mengalami hehavy rotation di radio adalah " apatis " . diinterpretasikan dengan sangat bagus oleh Benny Soebardja vokalis dan gitaris Giant Step.Arransmen lagu ini mengambil sisi kontras dari kelembutan " Kidung " yakni permainan sound rock yg ekspresif pada gitar. Popularitas " Apatis " turut melejitkan penciptanya . Inggris Wijanarko. LCLR 78 yang digagas oleh Prambors rasisonia, radio yang saat itu tengah menjadi trendsetter anak muda Jakarta dan dimaksudkan sebagai alternatif dari program sejenis yang sudah hadir duluan seperti festival Lagu Pop nasional. Pengemasannya pun dibuat lebih releks dan modern. Untuk keperluan relkaman dipercayakan pada Keenan ( Drum ) dan Odink Nasution ( gitar ). Jockie Suryoprayogo bertindak sebagai music director. Spirit pembaruan yang menjadi dasar penyelenggaraan diterjemahkan Jockie dalam wujud konsep musik yang cair tanpa harus terjebak formula angker. ia, misalnya, tahu benar kapan harus minimalis seperti saat mengiringi Pahama dalam " Kidaung " . Kita tahu kelompok tersebut memiliki karakter vocal tipis. Tidak ada pameran skill seperti lumrah dilakukan para peserta festival. Arransmen lebih berfungsi s ebagai elemen pendamping. Jikapun ada komposisi yang bernuansa festival, itu lebih dikarenakan tuntutan lagu seperti " Khayal ". Keenan Nasutionpun bermain dalam tempo rapat. Para pemenang LCLR 78 rata2 memiliki penguasaan kosa kata yang memadai.Penggambaran suasana setiap lagu disampaikan melalui kalimat2 jernih dan utuh, bukan lagi semata mengejar notasi seperti yang banyak dilakukan penulis lagu, sehingga setiap bahasa tetap menadapat kedudukan yang terhormat, tidak terjadi pemotongan yang seenaknya. tema yang diinginkan penulis dengan mudah tersampaikan. Menggunakan kriteria penilaian yang aktual serta lebih memperhatikan tuntutan jaman LCLR 78 turut menciptakan tardisi baru pada gaya penulisan sebuah lagu.Inti keberhasilannya adalah berhasil merangsang keberanian para penulis muda untuk menjajal kemampuan lewat ajang kompetisi. Siapakah yang kenal Deddy Gusrachmadi? Nama ini baru mencuri perhatian setelah ciptaannya mampu bersaing dengan komposer beken seperti Harry sabar yang juga ikut ajang ini. Prambors tak lagi mematahkan kontinuitas festival ini, akan tetapi jasa LCLR 78 tak bisa dilupakan begitu saja. Ia telah memberikan shock theraphypada musik pop Indonesia saat itu. Ditengan kenyataan2 aneh yang berlangsaung dimana sebuah konsep busuk tiba2 menjadi primadona industri musik modern, kita sangat memerlukan terobosan baru. Pendewaan bodoh atas nama masyarakat harus segera diakhiri, sebab selera masyarakat hanyalah kalimat pembenaran dan ketidakberanian para pelaku musik untuk emnciptakan idiom baru yang mampu menjadikan musik pop lebih memiliki gengsi. LCLR79 telah memberikan contoh soal itu. Sumber : RSI, foto dari musiklawas.blogspot
posted by Tembang Pribumi @ 7:36 AM  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
Tentang Saya

Nama: Tembang Pribumi
Kediaman: Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Informasi:
See my complete profile
Jurnal Sebelumnya
Simpan Data
Halo-halo

Musik adalah Cinta Pertama Ku.

Teman-teman
Didukung oleh

BLOGGER